Wednesday, 5 October 2016

Goreskan Aku Lagi




Aku terdiam di ujung meja berwarna putih. Menatap sang rembulan dari balik jendela di hadapanku. Wajahku sudah bosan menunggu seorang pria datang membuka pintu hitam itu kemudian menyentuh tubuhku.

Ku pandangi jam dinding di samping jendela, sudah pukul 8 malam. Seharusnya dia sudah pulang sedari tadi. Mataku sudah terkantuk namun tetap terjaga menantinya dengan setia disini.
Duakkk

Pintu di ujung sana dibanting sangat keras. Pria yang ku tunggu sudah tiba di hadapanku. Wajahnya tampak sangat gembira. Sambil sesekali melompat-lompat kegirangan.

Kemudian pria itu duduk di dekat meja tempatku berada. Membuka ransel hitamnya dan mengeluarkan benda hitam berbentuk persegi.

"Wah... Laptop hadiah dari ayah sangat bagus". Pria itu tersenyum lebar sambil memeluk benda hitam di tangannya.

"Hei... Siapa kau?". Tanyaku pada benda hitam berbentuk persegi itu.

Benda itu hanya diam melirikku dengan tatapan sombong. Kemudian tersenyum sinis seolah menganggapku remeh.

Wajah pria di depanku masih tersenyum sambil membuka benda hitam di hadapannya. Benda hitam itu terbuka mengeluarkan cahaya dan suara yang aneh.

"Wah... Aku bisa semakin semangat menulis sekarang". Ucap pria itu dengan girang.

Wajahku langsung gembira mendengar ia mengatakan kata menulis. Kemudian pria itu menatapku dengan tajam. Wajahku memerah, malu, sekaligus bahagia di pandangnya begitu.
Diambilnya tubuhku ringan sambil dilihatnya sebentar.

"Ah... Aku sudah tak membutuhkanmu pena tua". Ucap pria itu di depan wajahku.

Kemudian pria itu melemparku jauh hingga tersungkur di bawah kasur tempatnya tidur.

"Apa yang kau lakukan?". Teriakku pada pria itu. Namun pria itu diam dan kembali tersenyum memandang benda persegi di hadapannya.

Benda persegi itu tersenyum sinis melihatku tersungkur di bawah kasur.

"Ha ha ha... Namaku laptop. Kau sudah tak berguna lagi pena tua. 

Sekarang zaman sudah canggih. Pria ini sudah tak perlu menggunakan cara kuno darimu lagi". Hardik benda persegi yang mengaku dirinya laptop itu padaku.

Tubuhku membeku tak dapat berbuat apa-apa di bawah kasur pengap ini. Berteman dengan debu tebal dan sarang laba-laba yang terpajang di sana-sini.

Aku hanya dapat menatap pria itu bermain gembira dengan laptop di hadapannya. Berharap suatu saat dia memungut tubuhku lagi. Kemudian menggoreskan tubuhku merangkai kata-kata indah yang selalu membuatnya terjaga hingga pagi.

-

Riowaldy.


Share:

8 comments:

  1. MANIS!!!!!1

    Pdahall tokoh dalam "aku" didalm cerita yang mengantar kita ke alurnya adalah sebuah pena ya? pemilihan sudut pandang yang kreatif! Gokil di'!!!

    Oiya, salam kenal ya, smoga makin rajin nulis lagi...sya liat postingan nya masih jarang2...

    Smngat nulis nya riwaldi!. Tulisan nya gw suka'...

    ReplyDelete
  2. Pena ada SENJATA yg sangat berbahaya,, lebih bahaya dari AK47..
    Pena filosofinya sangat luwes...

    semoga mimin terus berkarya dengan penanya,,,sukses blogger

    ReplyDelete
    Replies
    1. LOL. Amin amin. Sukses juga buat agan nya

      Delete

Terima Kasih sudah berkunjung ke blog saya. Silahkan tambahkan komentar anda dengan bahasa yang sopan.